Sebelum dimakamkan, jenazah orang Islam wajib dimandikan dan disholati terlebih dahulu. Memandikan jenazah hukumnya fardhu kifâyah, sama seperti hukum sholat jenazah. Yang dimaksud dengan fardhu kifayah, jika sudah ada satu orang yang memandikan jenazah, meka kewajiban bagi yang lain telah gugur. Sebaliknya, jika belum ada seorang yang menanganinya, maka semua orang di kampung atau di desa itu berkewajiban memandikannya. Bagaimana tata cara memandikan jenazah? Berikut pembahasannya.

Tata Cara Memandikan Jenazah Menurut Islam

Mari kita mulai pembahasan ini dengan membahas dalil kewajiban memandikan jenazah.

Dalil Kewajiban Memandikan Jenazah

Dalil-dalil yang menunjukkan wajibnya memandikan jenazah, antara lain:

1. Hadits dari Ummi Athiyyah al-Anshariyyah ra., diriwayatkan oleh banyak imam hadits, di antaranya ialah Imam al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan al-Tirmidzi. Berikut bunyi hadits tersebut:

دَخَلَ عَلَيْنَا النَّبِيُّ ﷺ حِيْنَ تُوُفِّيَتِ ابْنَتَهُ فَقَالَ اَغْسِلْنَهَا ثَلَاثًا أَوْ خَمْسًا أَوْ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ إِنْ رَأَيْتُنَّ ذَلِكَ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ وَاجْعَلْنَ فِي الْآخِرَةِ كَافًوْرًا أَوْ شَيْئًا مِنْ كَافُوْرٍ فَإِذَا فَرَغْتُنَّ فَآَذِنَّنِي فَلَمَّا فَرَغْنَا آذَنَّاهُ فَأَعْطَانَا حِقْوَهُ فَقَالَ أَشْعِرْنَهَا إِيَّاهُ تَغْنِي إِزَارَهُ

Ummu Athiyah berkata, bahwa Rasulullah ﷺ masuk ke (ruang) kami saat putrinya meninggal, beliau bersabda, “Mandikanlah ia tiga, lima kali, atau lebih dari itu, jika kalian melihatnya itu perlu, dengan air atau daun bidara, jadikanlah yang terakhir dengan kapur atau sesuatu dari kapur, jika kalian selesai memandikan, beritahu aku.” Ketika kami sudah selesai, kami pun memberitahu beliau, kemudian beliau memberikan kepada kami selendang (sorban besar)nya sambil bersabda, “Selimutilah ia dengan selendang itu.

2. Hadits dari Abdullah Ibnu ‘Abbas ra., diriwayatkan oleh banyak imam hadits, di antaranya ialah Imam al-Bukhari, Muslim, al-Tirmidzi, al-Nasa`i, Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Hibban, dan al-Bazzar. Berikut bunyi hadits tersebut:

أَنَّ رَجُلاً وَقَصَهُ بَعِيْرُهُ وَنَحْنُ مَعَ النَّبِيِّ ﷺ وَهُوَ مُحْرِمٌ فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ اِغْسِلُوْهُ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ وَكَفِّنُوْهُ فِى ثَوْبَيْنِ

Seorang lelaku berihram (haji) dijatuhkan untanya dan ia meninggal karena patah tulang lehernya, dan kami bersama Nabi ﷺ, kemudian Nabi bersabda, “Mandikanlah ia dengan air dan daun bidara, dan kafankanlah ia dengan dua kain (ihram).”

Berdasarkan hadits di atas, mayoritas ulama berpendapat bahwa hukum memandikan jenazah adalah fardhu kifayah.

Syarat Jenazah yang Wajib Dimandikan

  1. Jenazah muslim atau muslimah.
  2. Ada tubuhnya.
  3. Bukan mati syahid.
  4. Bukan bayi yang meninggal karena keguguran.

Syarat Orang yang Memandikan Jenazah

  1. Muslim.
  2. Berakal.
  3. Balig.
  4. Berniat memandikan jenazah.
  5. Jujur dan saleh.
  6. Terpercaya, amanah, mengetahui hukum memandikan jenazah, dan mampu menutupi aib si jenazah.

Orang yang Memandikan Jenazah

Orang yang paling utama untuk memandikan dan mengkafani jenazah laki-laki adalah orang yang diwasiatkan oleh si jenazah semasa hidupnya, kemudian ayah, kakek, keluarga terdekat, mahram, dan istrinya.

Apabila dari pihak keluarga tidak ada yang bisa memandikan, maka boleh diwakili oleh laki-laki lain yang bisa memandikan jenazah.

Adapun orang yang paling utama untuk memandikan jenazah perempuan adalah ibunya, neneknya, keluarga terdekat dari pihak si perempuan, dan suaminya.

Apabila dari pihak keluarga si mayit perempuan tidak ada yang bisa memandikan, maka boleh diwakili oleh perempuan lain yang bisa dan biasa memandikan jenazah.

Untuk jenazah anak laki-laki, boleh perempuan yang memandikan, dan sebaliknya untuk jenazah anak perempuan, boleh laki-laki yang memandikan.

Jika seorang perempuan dewasa meninggal, sedangkan yang masih hidup semuanya hanya laki-laki, dan dia tidak punya suami, atau sebaliknya seorang laki-laki meninggal sementara yang masih hidup hanya perempuan saja dan ia tidak punya istri, maka jenazah tersebut tidak perlu dimandikan, tetapi cukup ditayamumkan saja.

Cara mentayamumkannya, yaitu seseorang menepukkan kedua telapak tangannya ke tanah, kemudian mengusapkannya ke bagian wajah dan punggung jenazah.

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ :

Jika seorang meninggal ditempat laki-laki dan tidak ada perempuan lain atau laki-laki meninggal di tempat perempuan-perempuan dan tidak ada laki-laki selainnya, maka kedua mayat itu ditayamumkan, lalu dikuburkan karena kedudukannya sama seperti tidak mendapat air.” (HR. Abu Dawud dan al-Baihaqi)

Untuk semakin memahami penjelasan tentang siapa orang yang berhak memandikan jenazah, silakan simak penjelasan ustadz Dr. Khalid Basalamah di bawah ini.

Langkah-langkah Memandikan Jenazah

Pertama-tama, siapkan sebuah ruangan tertutup dan peralatan yang dibutuhkan untuk memandikan jenazah. Peralatan yang dimaksud antara lain:

  • Tempat atau alas untuk memandikan jenazah. Usahakan agar tempat atau alas pemandian agak miring ke arah kakinya, tujuannya agar air dan semua yang keluar dari jasadnya bisa mengalir ke bawah dengan mudah.
  • Air secukupnya.
  • Sabun, air kapur barus, dan wangi-wangian.
  • Sarung tangan untuk memandikan.
  • Potongan atau gulungan kain kecil-kecil.
  • Kain basahan, handuk, dan lain-lain.

Setelah tempat dan peralatan yang dibutuhkan tersedia,  tibalah saatnya memandikan jenazah.

Berniat Memandikan Jenazah

Sebelum memandikan jenazah, petugas yang memandikan harus berniat terlebih dahulu. Niat memandikan jenazah cukup digetarkan dalam hati, tetapi apabila ingin dilafalkan secara lisan, maka bisa menggunakan susunan kalimat berikut:

نَوَيْتُ الْغُسْلَ اَدَاءً عَنْ هذَاالْمَيِّتِ ِللهِ تَعَالَى

Saya niat memandikan untuk memenuhi kewajiban dari mayit (laki-laki) ini karena Allah Ta’ala.

Bacaan di atas adalah niat memandikan jenazah laki-laki. Adapun niat memandikan jenazah perempuan, bacaannya ialah sebagai berikut:

نَوَيْتُ الْغُسْلَ اَدَاءً عَنْ هذِهِ الْمَيِّتَةِ ِللهِ تَعَالَى

Saya niat memandikan untuk memenuhi kewajiban dari mayit (perempuan) ini karena Allah Ta’ala.

Proses atau Tata Cara Memandikan Jenazah

Setelah berniat, yang selanjutnya dilakukan ialah memeriksa kuku jenazah. Apabila kukunya panjang, hendaknya kuku tersebut dipotong sehingga memiliki ukuran panjang yang normal.

Selanjutnya, memeriksa bulu ketiaknya. Bila panjang, hendaknya dicukur. Khusus bulu kemaluan, jangan dicukur, karena itu termasuk aurat besar.

Selanjutnya, kepala jenazah diangkat sampai setengah duduk, lalu perutnya ditekan agar kotoran keluar semua.

Selanjutnya, siram seluruh tubuh jenazah hingga kotoran yang keluar dari dalam perut tidak ada yang menempel di tubuh jenazah, juga bersihkan qubul (kemaluan depan) dan dubur (kemaluan belakang) jenazah agar tidak ada kotoran yang menempel di sekitar bagian tersebut. Dalam membersihkan qubul dan dubur jenazah, pastikan petugas menggunakan sarung tangan supaya petugas tidak perlu menyentuh kemaluan jenazah secara langsung.

mengenakan sarung tangan
Image by Azami Adiputera via Shutterstock

Setelah mengeluarkan kotoran dari dalam perut, langkah selanjutnya ialah membasuh jenazah.

Dalam membasuh jenazah mulailah dari anggota tubuh sebelah kanan, mulai dari kepala, leher, dada, perut, paha sampai kaki paling ujung.

Saat membasuh jenazah, sambil dituangkan air ke tubuh jenazah, bagian tubuh jenazah juga digosok dengan menggunakan sarung tangan atau kain handuk yang halus.

memandikan jenazah
Image by Azami Adiputera via Shutterstock

Memandikan jenazah boleh dilakukan lebih dari satu kali, tergantung kebutuhan.

Setelah jenazah dimandikan, kemudian petugas ‘mewudhui’ jenazah tersebut sebagaimana wudhu yang biasa dilakukan sebelum sholat.

Namun, perlu diingat, dalam ‘mewudhui’ jenazah, petugas tidak perlu memasukkan air ke dalam hidung dan mulut jenazah, tetapi petugas cukup membasahi jari yang dibungkus dengan kain atau sarung tangan, lalu jari tersebut digunakan untuk membersihkan bibir jenazah, menggosok gigi dan kedua lubang hidung jenazah hingga bersih.

Selanjutnya, petugas menyela jenggot dan mencuci rambut jenazah menggunakan air perasan daun bidara, lalu sisa perasan daun bidara tersebut digunakan untuk membasuh sekujur tubuh jenazah.

Setelah proses pemandian jenazah selesai dilakukan, jenazah dikeringkan dengan handuk.

Jenazah yang tidak Boleh Dimandikan

Ada dua jenis jenazah yang tidak sama dalam perawatannya dengan jenazah lain, yaitu orang yang mati syahid (mati saat perang melawan orang kafir untuk membela agama Islam) dan bayi yang meninggal keguguran saat dalam kandungan.

Kedua jenazah ini tidak boleh (haram) dimandikan dan dishalati, cukup dikafani dan dikuburkan.

Tentang Aib Jenazah

Apabila orang yang memandikan jenazah menemukan hal-hal negatif atau aib pada mayat, maka haram hukumnya bagi orang tersebut menceritakan atau menyebarluaskannya kepada orang lain.

Penutup

Demikian pembahasan tentang tata cara memandikan jenazah menurut Islam.

Untuk semakin memahami tata cara memandikan jenazah, silakan saksikan video tutorial tata cara memandikan jenazah di bawah ini.

Write A Comment