Tata cara sholat jenazah penting diketahui umat Islam. Walaupun menyelenggarakan sholat jenazah hukumnya fardhu kifâyah (wajib dilaksanakan minimal oleh satu orang), tapi setiap muslim perlu menguasainya agar muslim yang satu bisa menggantikan muslim yang lain dalam memimpin sholat jenazah secara berjama’ah.

Untuk membantu kaum muslimin dalam mempelajari tata cara sholat jenazah, berikut kami hadirkan artikel khusus yang membahas tata cara sholat jenazah secara cukup lengkap, di mana di dalam artikel ini terdapat pembahasan mulai dari niat sholat jenazah, bacaan sholat jenazah, doa sholat jenazah, hingga tanya-jawab seputar sholat jenazah.

Tata Cara Sholat Jenazah

salat jenazah
Image by ar.prayerinislam.com

Tata cara sholat jenazah berbeda dengan sholat pada umumnya. Sholat jenazah memang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Tetapi di dalamnya tidak ada rukuk, sujud, dan duduk. Semua prosesnya dilakukan dengan posisi berdiri. Tata cara sholat jenazah berdasarkan riwayat berikut:

قَالَ ابْنُ الْمُسَيِّبِ: السُّنَّةُ فِى الصَّلاَةِ عَلَى الْجَنَازَةِ أَنْ تُكَبِّرَ ثُمَّ تَقْرَأَ بِـأُمِّ الْقُرْانِ ثُمَّ تُصَلِّيَ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ ثُمَّ تُخْلِصَ الدُّعَاءَ لِلْمَيِّتِ وَلَا تَقْرَأْ إِلَّا فِى التَّكْبِيْرَةِ الْأُوْلَى ثُمَّ تُسَلِّمَ فِى نَفْسِكَ عَنْ يَمِيْنِكَ قَالَ الْحَافِظُ فِى التَّلْخِيْصِ: وَرِجَالُ هَذَا الْإِسْنَادِ مُخَرَّجٌ لَهُمْ فِى الصَّحِيْحَيْنِ اِنْتَهَى (عون المعبود)

Ibnu al-Musayyab berkata: “Kewajiban dalam sholat jenazah adalah engkau melakukan takbir, membaca surah al-Fatihah, membaca shalawat kepada Nabi ﷺ, tulus berdoa untuk mayit, dan mengucap salam dalam hatimu ke arah kanan.” Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam al-Talkhish bahwa perawi hadits ini diriwayatkan dalam kitab al-Bukhari dan Muslim. (Aun al-Ma’bud: VII/186)

Sedangkan urutan sholat jenazah adalah:

1. Niat.

Jika jenazahnya berjenis kelamin laki-laki, lafaz niatnya ialah sebagai berikut:

أُصَلِّي صَلَاةَ الْجَنَازَةِ عَلَى هَذَا الْمَيِّتِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ اَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةٍ للهِ تَعَالَى

Jika jenazahnya berjenis kelamin wanita, lafaz niatnya ialah sebagai berikut:

أُصَلِّي صَلَاةَ الْجَنَازَةِ عَلَى هَذَهِ الْمَيِّتَةِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ اَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةٍ للهِ تَعَالَى

Niat sholat jenazah di atas memiliki arti:

Saya sengaja sholat jenazah atas mayit (laki-laki/perempuan) ini dengan menghadap kiblat, empat takbir, fardhu kifayah karena Allah Ta’ala.

2. Melakukan takbir yang pertama. Setelah takbir membaca surah al-Fatihah.

3. Melakukan takbir yang kedua. Setelah takbir membaca shalawat.

Shalawat yang dibaca bisa yang memiliki redaksi panjang seperti shalawat dalam tahiyat akhir shalat:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ, وَ بَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Ya Allah, berilah kasih sayang kepada junjungan kita Nabi Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau memberi kasih sayang kepada junjungan kita Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dan berkatilah junjungan kita Nabi Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau memberkati junjungan kita Nabi Ibrahim dan keluarganya, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.

Catatan: Dalam mazhab Syafi’i, saat membaca shalawat dianjurkan menambahkan lafal ‘sayyidina’ meskipun dalam shalat (I’anat al-Thalibin, 1/198). Adapun bagi yang tidak ingin menambahkan lafal ‘sayyidina’ dalam shalawat saat shalat maupun di luar shalat, maka itu pun tidak mengapa.

Shalawat yang dibaca bisa juga yang memiliki redaksi singkat seperti ini:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ

Ya Allah, limpahkanlah rahmat-Mu atas Muhammad

4. Membaca takbir yang ketiga. Setelah takbir membaca doa untuk mayit.

Jika mayitnya adalah laki-laki maka doanya adalah sebagai berikut:

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ

Ya Allah, ampunilah dia, dan kasihanilah dia, sejahterakanlah dia dan ampunilah kesalahannya.

Jika mayitnya adalah perempuan maka doanya adalah sebagai berikut:

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهَا وَارْحَمْهَا وَعَافِهَا وَاعْفُ عَنْهَا

Ya Allah, ampunilah dia, dan kasihanilah dia, sejahterakanlah dia dan ampunilah kesalahannya.

5. Melakukan takbir yang keempat. Setelah takbir dianjurkan membaca doa berikut:

 

Ya Allah, janganlah Engkau halangi

6. Salam.

Shalat jenazah berbeda dengan shalat pada umumnya, karena di dalamnya tidak ada gerakan rukuk, i’tidal, dan sujud. Shalat jenazah harus dilakukan sebelum jenazah diantarkan ke kuburan.

Rukun sholat jenazah meliputi:

  1. Niat.
  2. Bertakbir sebanyak empat kali (melakukan empat kali takbir).
  3. Berdiri (bagi yang mampu).
  4. Membaca surah Al-Fatihah setelah takbir pertama.
  5. Membaca shalawat nabi setelah takbir kedua.
  6. Membaca doa shalat jenazah setelah takbir ketiga.
  7. Mengucapkan salam setelah takbir keempat.
tata cara sholat jenazah dalam Islam
Image by kemenag.go.id

Adapun tata cara sholat jenazah urutannya ialah sebagai berikut:

  1. Berniat.
  2. Melakukan takbiratul ihram (takbir pertama). Setelah takbir pertama, tidak perlu membaca istiftah, melainkan langsung membaca basmalah, dilanjutkan dengan membaca surah Al-Fatihah.
  3. Setelah membaca surah Al-Fatihah, dilanjutkan dengan takbir kedua yang lalu diikuti dengan bershalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ semisal shalawat yang dibaca pada tasyahud akhir dalam shalat wajib lima waktu, yaitu Allâhumma shalli ‘alâ Muhammad wa ‘alâ âli Muhammad.
  4. Selanjutnya lakukan takbir ketiga dan dilanjutkan dengan mendoakan jenazah dengan doa-doa yang terdapat di dalam hadis-hadis shahih (seperti apa doanya ada penjelasannya di dalam artikel ini. Silakan teruskan membaca).
  5. Selanjutnya lakukan takbir keempat. Setelah takbir keempat, berhenti sejenak, lalu ucapkan salam dengan salam yang sempurna (assalâmu’alaikum warahmatullâhi wabarakâtuh) ke arah kanan dengan satu kali salam (berdasarkan hadis riwayat Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu), atau dua kali salam sebagaimana salat pada umumnya (berdasarkan hadis riwayat Imam al-Baihaqi).

Niat Sholat Jenazah

niat shalat jenazah
Image by alarabiya.net

Niat sholat jenazah wajib digetarkan dalam hati. Apabila niat sholat jenazah ingin dilafalkan secara lisan, maka niat sholat jenazah bisa dilafalkan dengan menggunakan susunan kalimat berikut ini:

Niat sholat jenazah apabila jenazahnya laki-laki:

أُصَلِّي عَلىٰ هٰذَا الـمَيِّتِ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةٍ للهِ تَعَالىٰ

Niat sholat jenazah apabila jenazahnya perempuan:

أُصَلِّي عَلىٰ هٰذِهِ الـمَيِّتَةِ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةٍ للهِ تَعَالىٰ

Apabila kita bertindak sebagai imam, maka kita harus menambahkan lafaz إِمَامًا sebelum للهِ تَعَالىٰ, apabila kita sebagai makmum, maka lafaz إِمَامًا diganti menjadi مَأْمُوْمًا.

Doa Sholat Jenazah

sholat jenazah secara berjama'ah
Image by jabartoday.com

Setelah takbir ketiga, kita disunnahkan membaca doa sholat jenazah dengan doa-doa yang terdapat di dalam hadis-hadis shahih.

Apa saja doa sholat jenazah yang terdapat di dalam hadis-hadis shahih?

Berikut beberapa di antaranya.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الذُّنُوبِ والْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ عَذَابِ النَّار, وَافْسَحْ لَهُ فِي قَبْرِهِ، ونَوِّرْ لَهُ فِيهِ

Ya Allah, berikanlah ampunan dan rahmat-Mu kepadanya, maafkanlah kesalahannya, muliakanlah kematiannya, lapangkanlah kuburnya, dan cucilah ia dengan air, salju, dan embun. Bersihkanlah ia dari dosa sebagaimana bersihnya pakaian putih dari noda. Berikanlah ia kediaman yang lebih baik dari pada kediamannya selama di dunia, keluarga yang lebih baik dari pada keluarganya selama di dunia, dan pasangan yang lebih baik dari pada pasangannya selama di dunia. Perkenankanlah ia untuk memasuki surga-Mu, hindarkanlah ia dari siksa kubur dan siksa api neraka. Lapangkanlah ia dalam kuburnya dan terangilah ia di dalamnya.” (HR. Muslim)

Apabila yang dishalatkan itu jenazah perempuan, maka dhamir mudzakkar (kata ganti jenis laki-laki) diganti menjadi dhamir muannats (kata ganti jenis perempuan), sehingga doa sholat jenazah menjadi berbunyi:

للَّهُمَّ اغْفِرْ لَهَا وَارْحَمْهَا وَعَافِهَا وَاعْفُ عَنْهَا، وَأَكْرِمْ نُزُلَهَا، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهَا، وَاغْسِلْهَا بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهَا مِنَ الذُّنُوبِ والْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهَا دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهَا، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهَا، وَأَدْخِلْهَا الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهَا مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ عَذَابِ النَّار, وَافْسَحْ لَهَا فِي قَبْرِهَا، ونَوِّرْ لَهَا فِيهِ

Apabila yang dishalatkan itu jenazah anak kecil laki-laki, maka doa sholat jenazah yang dibaca adalah:

اللّهُمَّ اجْعَلْهُ لِوَالِدَيْهِ فَرَطًا وَأَجْرًا وشَفِيعًا مُجَابًا‏

Ya Allah, jadikanlah dia sebagai simpanan, pahala, dan sebagai syafaat yang mustajab untuk kedua orang tuanya.” (HR. Al-Bukhari)

اللَّهُمَّ ثَقِّلْ بِهِ مَوَازِينَهُمَا، وَأَعْظِمْ بِهِ أُجُورَهُمَا، وَأَلْحِقْهُ بِصَالِحِ سَلَفِ الْمُؤْمِنِينَ، وَاجْعَلْهُ فِي كَفَالَةِ إِبْرَاهِيمَ، وَقِهِ بِرَحْمَتِكَ عَذَابَ الْجَحِيمِ‏

Ya Allah, perberatlah karenanya timbangan kebaikan kedua orang tuanya, perbanyaklah pahala kedua orang tuanya, dan kumpulkanlah dia bersama orang-orang shalih terdahulu dari kalangan orang yang beriman, masukkanlah dia dalam pengasuhan nabi Ibrahim, dan dengan rahmat-Mu, peliharalah ia dari siksa api neraka.

Apabila yang dishalatkan itu jenazah anak perempuan, maka dhamir mudzakkar (kata ganti jenis laki-laki) diganti menjadi dhamir muannats (kata ganti jenis perempuan), sehingga doa sholat jenazah menjadi berbunyi:

اللّهُمَّ اجْعَلْهَا لِوَالِدَيْهَا فَرَطًا وَأَجْرًا وشَفِيعًا مُجَابًا‏

اللَّهُمَّ ثَقِّلْ بِهَا مَوَازِينَهُمَا، وَأَعْظِمْ بِهَا أُجُورَهُمَا، وَأَلْحِقْهَا بِصَالِحِ سَلَفِ الْمُؤْمِنِينَ، وَاجْعَلْهَا فِي كَفَالَةِ إِبْرَاهِيمَ، وَقِهَا بِرَحْمَتِكَ عَذَابَ الْجَحِيمِ‏

Doa sholat jenazah lainnya yang bisa dibaca setelah takbir ketiga:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا وَصَغِيرِنَا وَكَبِيرِنَا وَذَكَرِنَا وَأُنْثَانَا

Ya Allah, ampunilah orang-orang yang masih hidup di antara kami, orang-orang yang telah meninggal dunia, orang-orang yang hadir, orang-orang yang tidak hadir, baik anak kecil maupun dewasa, baik laki-laki maupun perempuan.” (HR. Al-Tirmidzi)

Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu meriwayatkan dari Nabi ﷺ, dan beliau menambahkan:

اللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَأَحْيِهِ عَلَى الْإِيْمَانِ وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى الْإِسْلَامِ اَللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلَا تَفْتِنَّا بَعْدَهُ

Ya Allah, siapa pun di antara kami yang Engkau masih berikan kesempatan hidup, maka hidupkanlah ia dalam keadaan memegang keimanan. Dan siapa pun di antara kami yang Engkau akan wafatkan, maka wafatkanlah ia dalam keadaan beragama Islam. Ya Allah, janganlah Engkau halangi pahala yang akan sampai kepada kami, dan janganlah jadikan kami mendapatkan fitnah sepeninggalnya.” (HR. Abu Dawud)

Dari ‘Auf bin Malik radhiyallâhu ‘anhu, ia berkata bahwasanya Rasulullah ﷺ pernah menshalati jenazah dan beliau berdoa:

للَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ عَذَابِ النَّار

Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, maafkanlah dia, ampunilah kesalahannya, muliakanlah tempat peristirahatannya, lapangkanlah kuburannya, cucilah dia dengan air, es, dan embun sebagaimana Engkau mencuci pakaian putih dari kotoran. Gantilah rumahnya dengan rumah yang lebih baik, keluarganya dengan keluarga yang lebih baik, dan istrinya dengan istri yang lebih baik. Masukkanlah ia ke dalam surga, dan lindungilah ia dari azab kubur dan siksa api neraka.” (HR. Muslim)

Untuk semakin melengkapi pemahaman kita tentang tata cara sholat jenazah, mari simak penjelasan ustadz Dr Khalid Basalamah, MA tentang doa sholat jenazah di bawah ini.

Tanya-Jawab Seputar Tata Cara Sholat Jenazah

Pertanyaan #1: Bacaan sholat jenazah dibaca keras atau pelan?

Jawaban: Bacaan sholat jenazah tidak keras, tapi pelan. Standar tidak keras di sini ialah hanya terdengar oleh diri sendiri saja, sedangkan orang yang di samping kita tidak mendengarnya. Atau dalam kata lain, mulut kita bergerak, tapi tidak keluar suara yang bisa didengar oleh orang lain yang berada di samping kita.

Pertanyaan #2: Apakah setiap takbir dalam shalat jenazah, kita diharuskan mengangkat tangan, ataukah tidak?

Jawaban: Mengangkat tangan pada setiap takbir dalam shalat jenazah hukumnya sunnah. Imam Ibnu Hajar pernah berkata,

“Ada riwayat shahih dari Ibnu ‘Abbas radhiyallâhu ‘anhu, bahwasanya beliau mengangkat tangannya pada seluruh takbir dalam shalat jenazah.”

Hal lain yang menunjukkan bahwa mengangkat tangan pada setiap kali takbir dalam shalat jenazah hukumnya sunah ialah berdasarkan hadits shahih dari Ibnu ‘Umar radhiyallâhu ‘anhumâ bahwasanya beliau mengerjakannya. Hadits yang diriwayatkan secara mauqûf ini memiliki hukum marfû’, karena hal seperti ini tidak mungkin dikerjakan oleh seorang sahabat nabi berdasarkan hasil ijtihad pribadi.

Pertanyaan #3: Apakah shalat jenazah boleh dilaksanakan kapan pun?

Jawaban: Shalat jenazah boleh dilaksanakan kapan pun, kecuali pada tiga waktu terlarang untuk mengerjakan shalat, yaitu ketika matahari terbit hingga naik setinggi tombak, ketika matahari sepenggalah hingga tergelincir, dan ketika matahari condong ke barat hingga terbenam.

Pertanyaan #4: Apakah perempuan muslimah boleh mengerjakan shalat jenazah secara sendirian ataukah harus berjama’ah?

Jawaban: Kaum wanita dibolehkan melaksanakan shalat jenazah secara berjama’ah, dan boleh juga secara sendirian. Alasannya, dahulu Siti ‘Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ pernah menyalatkan jenazah Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallâhu ‘anhu secara sendirian.

Pertanyaan #5: Apabila ada lebih dari satu jenazah, apakah pelaksanakan shalat jenazahnya dilakukan satu per satu sesuai jumlah jenazah ataukah boleh semua jenazah digabung menjadi satu kali shalat jenazah saja?

Jawaban: Apabila terkumpul lebih dari satu jenazah di mana terdapat jenazah laki-laki dan jenazah perempuan, maka mereka boleh dishalatkan secara bersamaan. Jenazah lelaki meskipun anak kecil, diletakkan paling dekat dengan imam, sedangkan jenazah perempuan diletakkan di arah kiblatnya imam.

Pertanyaan #6: Bagaimana jika ada makmum shalat jenazah yang masbuq setelah imam melakukan salam?

Jawaban: Apabila seseorang masbûq setelah imam melakukan salam, maka dia harus meneruskan shalatnya sesuai dengan sifatnya.

Pertanyaan #7: Bagaimana jika ada orang yang ketinggalan shalat jenazah berjama’ah?

Jawaban: Apabila seseorang tertinggal dari shalat jenazah berjama’ah, maka orang tersebut boleh melakukan shalat jenazah sendirian selama mayit belum dimakamkan. Apabila mayit sudah dimakamkan, maka orang tersebut dibolehkan untuk melakukan shalat jenazah di lokasi pemakaman.

Apa dalil bolehnya melakukan shalat jenazah di pemakaman? Dalilnya adalah sebagian sahabat nabi pernah menshalati jenazah Siti ‘Aisyah dan Ummu Salamah radhiyallâhu ‘anhumâ di tengah pemakaman Baqi’ di antara kuburan. Yang menjadi imam adalah Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu, dan dihadiri oleh Ibnu ‘Umar radhiyallâhu ‘anhumâ (HR Abdurrazaq dalam al-Mushannaf no. 6570).

Pertanyaan #8: Apakah sholat jenazah boleh dikerjakan di dalam masjid?

Jawaban: Ya, boleh. Shalat jenazah boleh dikerjakan di dalam masjid. Dalam kitab al-Jâmi’ li Ahkâm al-Shalâh, Syaikh Mahmud Abdul Lathif Uwaidhah menyimpulkan (setelah mengkaji dalil-dalil yang ada), bahwa pelaksanaan sholat jenazah boleh dilaksanakan di dalam masjid dan orang yang melaksanakannya tidak mendapatkan dosa atau cela.

Pertanyaan #9: Apakah ada doa tertentu yang harus kita baca seusai pelaksanaan sholat jenazah?

Jawaban: Usai shalat jenazah sebaiknya tidak membaca doa lagi, karena tidak ada riwayat tentangnya. Karena tidak ada riwayat tentangnya, sebagian ulama seperti Syaikh Abu ‘Umar Usamah al-Utaibi bahkan menganggap membaca doa setelah shalat jenazah termasuk perbuatan bid’ah. Oleh karena itu, doa sholat jenazah sebaiknya hanya diucapkan saat di dalam shalat saja, yaitu di saat selesai melakukan takbir yang ketiga.

Pertanyaan #10: Apakah memperbanyak peserta shalat jenazah itu dianjurkan?

Jawaban: Ya, Rasulullah ﷺ menganjurkan untuk memperbanyak jumlah peserta shalat jenazah. Semakin banyak jumlahnya, semakin baik.

Penutup

Demikian penjelasan tentang tata cara sholat jenazah.

Semoga Allah SWT memberikan hidayah kepada kita semua, dan memudahkan kita dalam memahami ajaran Islam yang mulia ini, Aamiin Yaa Rabb al-’aalamiin.

1 Comment

Write A Comment