Shalat ghaib adalah salah satu shalat yang dikenal di dalam ajaran Islam.

Sebagaimana sholat pada umumnya, sholat ghaib memiliki ketentuan-ketentuan yang hendaknya diketahui oleh setiap muslim-muslimah.

Apa saja ketentuan-ketentuan yang hendaknya diketahui tersebut?

Ada beberapa, yaitu:

  • Pengertian shalat ghaib
  • Hukum shalat ghaib
  • Dalil shalat ghaib
  • Ulama yang membolehkan shalat ghaib dan alasannya
  • Ulama yang tidak membolehkan shalat ghaib dan alasannya
  • Niat shalat ghaib
  • Tata cara sholat ghaib

Di bawah ini adalah pembahasan dari masing-masing poin di atas. Selamat membaca!

Pengertian Shalat Ghaib

Sholat ghaib adalah shalat jenazah yang dilakukan ketika jenazah tidak berada di tempat atau ia sedang berada di tempat lain. Demikian pengertian shalat ghaib secara singkat.

pengertian shalat ghaib

Setelah membahas pengertian shalat ghaib, selanjutnya mari kita bahas tata cara sholat ghaib. Namun, sebelum itu, alangkah baiknya kita membahas hukum shalat ghaib terlebih dahulu.

Hukum Shalat Ghaib

Mengenai hukum shalat ghaib terdapat perbedaan pendapat. Ada pendapat yang tidak membolehkan, ada pendapat yang membolehkan, ada pula pendapat yang membolehkan dengan syarat. Untuk memahami alasan di balik penetapan hukum shalat ghaib tersebut, mari kita simak dalil dari masing-masing pendapat.

Dalil Shalat Ghaib

Ketika di awal Islam, sebagian sahabat pernah melakukan hijrah ke Habasyah (Ethiopia). Pemimpin Habasyah yang saat itu beragama Nasrani, yaitu Raja Najasyi, menerima mereka dengan baik. Bahkan sang raja sampai menangis ketika mendengar sahabat membacakan Al-Quran di hadapan beliau. Setelah bergaul dengan sahabat, akhirnya beliau masuk Islam, namun beliau merahasiakan statusnya sebagai muslim, mengingat banyaknya para pastur yang masih bercokol di sekitar beliau.

Ketika Raja Najasyi ini meninggal, Nabi ﷺ mengumpulkan para sahabat untuk melakukan sholat ghaib di Madinah. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَى النَّجَاشِيَّ فِي الْيَوْمِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ خَرَجَ إِلَى الْمُصَلَّى فَصَفَّ بِهِمْ وَكَبَّرَ أَرْبَعًا

Bahwa Rasulullah ﷺ mengumumkan kematian An-Najasyi pada hari kematiannya. Kemudian beliau keluar menuju tempat shalat lalu beliau membariskan saf kemudian bertakbir sebanyak empat kali.” (HR al-Bukhari)

Ulama yang tidak Membolehkan

Di antara ulama yang tidak membolehkan ialah Imam Malik dan Imam Abu Hanifah. Alasannya, sholat ghaib yang dilakukan Nabi ﷺ untuk An-Najasyi adalah khusus untuk An-Najasyi saja, tidak berlaku umum bagi yang lainnya.

Dalam kata lain, shalatnya Nabi ﷺ kepada An-Najasyi, itu kekhususan beliau ﷺ yang tidak boleh diikuti oleh umat. Mereka berdalil dengan sebuah lafaz dalam riwayat lain hadis ini…

“Bahwasanya bumi ini telah diratakan sehingga beliau dapat melihat tempat An-Najasyi berada.” Sehingga keadaan beliau ibarat sedang berdiri di depan jenazah. Ditambah lagi, tidak ada riwayat lain yang menunjukkan bahwa nabi melakukan sholat ghaib kepada selain An-Najasyi. Hal tersebut menunjukkan bahwa shalat ghaib yang dilakukan nabi untuk An-Najasyi merupakan amalan yang dikhususkan untuk nabi saja.

Ulama yang Membolehkan

Di antara ulama yang membolehkan ialah Ibnu Taimiyah (661-728 H), sebagaimana disebutkan oleh Ibn Qayyim al-Jauziyyah (691-751 H) dalam kitab Zâd al-Ma’âd.

Ibnu Taimiyah berpendapat, boleh melakukan sholat ghaib, dengan syarat orang tersebut meninggal di suatu tempat dan belum dishalatkan jenazah untuknya. Kalau jenazah tersebut sudah dishalati, maka tidak perlu dilakukan sholat ghaib lagi untuknya, karena kewajiban sholat ghaib telah gugur dengan shalat jenazah yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin kepadanya.

Alasan lainnya, tidaklah diketahui bahwa Nabi Muhammad ﷺ melakukan sholat ghaib kecuali pada An-Najasyi saja. Faktanya, An-Najasyi meninggal dunia di tengah-tengah orang musyrik sehingga tidak ada yang menshalatinya. Seandainya ia meninggal dunia di tengah-tengah kaum muslimin, niscaya akan ada yang menshalatkan jenazah untuknya, dan tentu tidak akan ada sholat ghaib. Oleh karena itu, Nabi ﷺ menyolati An-Najasyi di Madinah, sedangkan An-Najasyi sendiri berada di Habasyah (Ethiopia).

Alasan lain, ketika para pembesar dan pemimpin umat ini meninggal dunia di masa Nabi–padahal mereka berada di tempat yang jauh–tidak diketahui bahwa mereka dishalati dengan sholat ghaib.

Pendapat Lain dalam Masalah Ini?

Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan bahwa sebagian ulama menganjurkan dilaksanakannya sholat ghaib bagi orang yang banyak memberikan manfaat dalam agama dengan harta, amalan, atau ilmunya. Namun, bagi orang yang tidak seperti itu tidak perlu dilaksanakan sholat ghaib atas dirinya.

Kesimpulan mengenai Hukum Shalat Ghaib

Mengenai hukum shalat ghaib terdapat perbedaan di antara para ulama yang mumpuni dalam masalah fikih. Pendapat yang insya Allah lebih mendekati kebenaran adalah pendapat yang membolehkan. Artinya, sholat ghaib boleh dilakukan apabila jenazah yang berada di suatu tempat belum dishalatkan jenazah.

Apabila jenazah sudah dishalatkan jenazah, maka sholat ghaib tidak perlu dilakukan. Juga, ia bisa dilakukan khusus bagi orang-orang yang memiliki peran dalam masalah agama seperti ketika ada seorang ulama besar yang meninggal dunia, sebagaimana penjelasan tambahan dari Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin.

Tata Cara Sholat Ghaib

Tata cara pelaksanaan sholat ghaib sama seperti sholat jenazah, yaitu dengan empat kali takbir tanpa rukuk, i’tidal, dan sujud.

niat shalat ghaib

Setelah takbir pertama, yang dibaca adalah surah Al-Fatihah.

Setelah takbir kedua, yang dibaca adalah shalawat atas nabi minimal shalawat pendek “Allâhumma shalli ‘alâ sayyidinâ Muhammad”.

Setelah takbir ketiga, yang dibaca adalah doa untuk jenazah. Doa yang dibaca biasanya ialah doa singkat yang berbunyi:

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ

Ya Allah, ampuniah dia, rahmatilah ia, sejahterakan dia, dan maafkanlah dia.

Setelah takbir keempat, yang diucapkan ialah salam. Sebelum salam diucapkan, disunnahkan untuk membaca doa ini terlebih dahulu:

ُاَللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلَا تَفْتِنَّا بَعْدَهُ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَه

Ya Allah, janganlah Engkau halangi pahala yang akan sampai kepada kami, dan janganlah jadikan kami mendapatkan fitnah sepeninggalnya, serta ampunilah kami dan dia.

Niat Shalat Ghaib

Di atas sub bab ini adalah penjelasan tentang tata cara sholat ghaib. Sebelum shalat tersebut ditunaikan, orang yang akan menunaikannya harus niat shalat ghaib terlebih dahulu.

tata cara sholat ghaib

Niat shalat ghaib, sebagaimana niat shalat lainnya, wajib digetarkan dalam hati, dan apabila ingin dilafazkan, maka lafaznya berbunyi:

أُصَلِّي عَلىٰ مَيِّتِ (فلان) الْغَائِبِ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةٍ للهِ تَعَالىٰ

Saya niat shalat ghaib atas mayit (sebutkan nama jenazah yang akan dishalatkan) empat kali takbir fardhu kifâyah karena Allah Ta’ala.

Apabila kita bertindak sebagai imam, maka kita harus menambahkan lafaz إِمَامًا sebelum للهِ تَعَالىٰ, apabila kita sebagai makmum, maka lafaz إِمَامًا diganti menjadi مَأْمُوْمًا.

Apabila kita sebagai makmum ingin ikut melaksanakan sholat ghaib tapi kita tidak mengetahui identitas jenazahnya secara pasti, maka lafaz niatnya bisa berupa sebagai berikut:

أُصَلِّي عَلىٰ مَنْ صَلَّى عَلَيْهِ الْإِمَامُ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةٍ مَأْمُوْمًا للهِ تَعَالىٰ

Saya niat shalat ghaib atas mayit yang dishalati oleh imam empat kali takbir fardhu kifâyah menjadi makmum karena Allah Ta’ala.

Demikian penjelasan yang cukup lengkap seputar sholat ghaib (pengertian shalat ghaib, niat shalat ghaib, doa shalat ghaib, tata cara sholat ghaib, dll).

Semoga artikel ini bermanfaat untuk para pembaca sekalian. Aamiin Yaa Rabb al-‘aalamiin.

Write A Comment