Perayaan ulang tahun dalam Islam, seperti apa seharusnya?

Sebelum kita menjawab pertanyaan di atas, alangkah baiknya bila terlebih dahulu kita memahami kondisi masyarakat Indonesia saat ini.

Merayakan hari ulang tahun dengan makan bersama, atau bahkan dengan mengadakan pesta yang meriah sudah menjadi tradisi di sebagian masyarakat Indonesia.

Apakah tradisi tersebut sudah tepat menurut ajaran Islam?

Sejauh yang kami ketahui, menurut ajaran Islam, merayakan ulang tahun dengan makan-makan atau pesta sebenarnya kurang tepat, karena ulang tahun pada hakikatnya adalah berkurangnya usia, sehingga yang sebaiknya dilakukan ialah muhasabah–merenungkan bagaimana usia selama ini digunakan–dan bagaimana agar sisa usia bisa digunakan dengan lebih baik.

Untuk melakukan muhasabah, kita bisa menggunakan sarana ziarah kubur.

Ziarah Kubur, Apa itu?

ziarah kubur
Image by mirzavisoko via Shutterstock

Ziarah kubur artinya mendatangi atau mengunjungi kuburan atau pemakaman dengan tujuan mendoakan sesama muslim yang telah meninggal dunia.

Dengan mengingat mati, muhasabah diri menjadi lebih mudah untuk dilakukan.

Nah, apabila kita kaitkan muhasabah dengan perayaan ulang tahun, maka dari pada perayaan ulang tahun diisi dengan pesta, jauh lebih baik mengisi perayaan itu dengan melakukan muhasabah.

Menurut ulama, mengingat mati atau muhasabah diri di hari kelahiran adalah hal yang tidak menyalahi ajaran agama Islam.

Hal tersebut sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Ustadz Abdul Somad, Lc., MA dalam salah satu ceramahnya yang kita bisa sama-sama saksikan di bawah ini.

Selain muhasabah, hari ulang tahun bisa juga diisi dengan kegiatan-kegiatan positif seperti bersedekah kepada para fakir miskin dan anak-anak yang yatim piatu, dalam rangka mensyukuri hari kelahiran.

Menurut Ustadz Abdul Shomad, Lc., MA., mensyukuri hari kelahiran hukumnya boleh.

عَنْ أبِي قَتَادَةَ الأنْصَارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ اْلإثْنَيْنِ فَقَالَ فِيْهِ وُلِدْتُ وَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ – صحيح مسلم

Dalam kitab Shahih Muslim, diriwayatkan dari Abu Qatadah al-Anshari radhiyallâhu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ pernah ditanya tentang puasa senin, lalu beliau menjawab:

Pada hari itulah aku dilahirkan dan kepadaku wahyu diturunkan.

Itulah dalil bolehnya mensyukuri hari kelahiran. Wallâhu a’lam bi al-shawâb.

Penutup

Usai sudah pembahasan kita kali ini tentang perayaan ulang tahun dalam Islam.

Semoga Allah SWT memberikan kita pemahaman yang baik dan kekuatan iman supaya kita bisa menjalani kewajiban kita di dunia ini dengan sebaik-baiknya. Aamiin Yaa Rabb al-‘aalamiin.

Write A Comment