Setidaknya ada 7 hal yang hendaknya dilakukan oleh orang sakit. Apa saja ke-7 hal tersebut?

Berikut pembahasannya.

7 Hal yang Sebaiknya Dilakukan oleh Orang Sakit Menurut Islam

1. Bersabar

Setiap muslim yang ditimpa ujian berupa penyakit, hendaknya bersabar, karena Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Sungguh mengagumkan perkara orang yang beriman karena semua urusannya adalah baik, dan hal itu tidak terjadi pada seorang pun kecuali pada orang yang beriman. Jika ia mendapat kesenangan,  ia bersyukur, maka hal itu baik baginya; apabila ditimpa kesulitan, ia bersabar, maka hal itupun juga baik baginya.“ (HR. Muslim)

2. Berobat

berobat
Image by rawpixel via Pixabay

Orang yang sakit boleh berobat dengan sesuatu yang halal, dan tidak boleh berobat dengan sesuatu yang haram, atau berobat dengan metode pengobatan yang merusak akidah seperti datang kepada dukun atau tukang sihir.

Dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

مَا أَنْزَلَ اللهُ دَاءً إِلاَّ أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً”.أخرجه البخاري

Allah tidak menurunkan suatu penyakit, kecuali Allah turunkan juga obatnya.” (HR. Al-Bukhari)

Rasulullah ﷺ juga pernah bersabda:

إِنَّ اللهَ خَلَقَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ فَتَدَاوَوْا وَلاَ تَدَاوَوْا بِحَرَامٍ

Sesungguhnya Allah menciptakan penyakit sekaligus obatnya, maka berobatlah kalian, dan janganlah kalian berobat dengan sesuatu yang haram.” (Dikeluarkan oleh al-Haitsami dalam kitab Majma’ al-Zawâ’id).

3. Bersikap Optimis dan tidak Mengharapkan Kematian

optimis
Image by rawpixel via Pixabay

Orang sakit, apabila sakitnya bertambah parah, maka ia tetap tidak boleh mengharapkan kematian.

Hal ini merupakan tuntunan Islam berdasarkan hadits Ummul Fadhl radhiyallâhu ‘anhâ, bahwasanya Rasulullah ﷺ pernah datang kepada mereka tatkala ‘Abbas radhiyallâhu ‘anhu (paman Rasulullah) menderita sakit, hingga ‘Abbas berangan-angan ingin mati. Melihat hal itu, Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam lantas berkata:

يَا عَمَّي لا تَتَمَنَّ الْمَوْتَ إِنْ كُنْتَ مُحْسِنًا فأن تؤخّر تَزْدَادُ إِحْسَانًا إِلَى إِحْسَانِكَ خَيْرٌ لَكَ وَإِنْ كُنْتَ مُسِيئًا فَإِنْ تُؤَخَّرْ تَسْتَعْتِبْ خَيْرٌ لَكَ فَلَا تَتَمَنَّ الْمَوْتَ

Wahai pamanku, janganlah engkau berangan-angan ingin mati, karena sesungguhnya jika engkau termasuk orang yang suka beramal baik, apabila ditangguhkan ajalmu, engkau bisa menambah kebaikan lagi kepada kebaikanmu, itu akan lebih baik bagimu. (Sebaliknya), jika engkau termasuk orang yang suka beramal buruk, apabila ditangguhkan ajalmu lalu engkau merasa bersalah atas amal-amal burukmu (menyesal), itu juga lebih baik bagimu. Maka janganlah berangan-angan ingin mati.” (HR. Ahmad)

Di saat lain, Rasulullah ﷺ juga pernah bersabda:

لَا يَتَمَنَّى أَحَدُكُمْ الْمَوْتَ وَلَا يَدْعُ بِهِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُ إِنَّهُ إِذَا مَاتَ أَحَدُكُمْ انْقَطَعَ عَمَلُهُ.

Janganlah salah seorang di antara kalian mengharapkan kematian, dan janganlah pula meminta kematian sebelum datang waktunya, karena apabila seorang di antara kalian meninggal dunia, maka terputuslah amalnya.” (HR. Muslim)

4. Berada di antara Rasa Takut dan Harap

sedang sakit
Image by Zurijeta via Shutterstock

Seyogyanya orang yang sedang sakit memiliki perasaan antara rasa takut (khauf) dan harap (raja’), yaitu takut akan siksa Allah ‘Azza wa Jalla atas dosa-dosanya dan berharap akan rahmat Allah ‘Azza wa Jalla kepadanya.

Diriwayatkan oleh Anas radhiyallâhu ‘anhu, bahwasanya Nabi ﷺ pernah mendatangi seorang pemuda yang sudah dalam kondisi sedang menghadapi sakaratul maut, lalu beliau bertanya kepadanya:

Bagaimana engkau menjumpai dirimu?” Dia menjawab: “Wahai Rasulullah, Demi Allah, aku hanya berharap kepada Allah, dan aku takut akan dosa-dosaku.” Kemudian Rasulullah bersabda:

لَا يَجْتَمِعَانِ فِي قَلْبِ عَبْدٍ فِي مِثْلِ هَذَا الْمَوْطِنِ إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ مَا يَرْجُو وَآمَنَهُ مِمَّا يَخَافُ

Tidaklah berkumpul dua hal ini (yaitu khauf dan raja’) di dalam hati seseorang, dalam kondisi seperti ini, kecuali pasti Allah wujudkan harapkannya dan Allah berikan ia rasa aman dari apa yang ia takutkan.” (HR. Al-Tirmidzi)

5. Segera Mengembalikan Hak dan Harta Titipan Orang Lain

Wajib bagi orang yang sakit untuk segera mengembalikan hak dan harta titipan orang lain, atau dia juga meminta haknya dari orang lain.

Jika tidak memungkinkan baginya melakukan hal tersebut, hendaknya ia berpesan kepada keluarganya untuk melunasi hutang-hutangnya, atau untuk membayarkan kafarah atau zakatnya.

6. Berwasiat sebelum Datang Tanda-tanda Kematian

berwasiat
Image by unclekt via Pixabay

Allah SWT berfirman:

(كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ (البقرة)

Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf, (Ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 180)

Rasulullah ﷺ juga pernah bersabda:

مَا حَقُّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ لَهُ شَيْءٌ يُوصِي فِيهِ يَبِيتُ لَيْلَتَيْنِ إِلَّا وَوَصِيَّتُهُ مَكْتُوبَةٌ عِنْدَهُ

Tidak sepatutnya bagi seorang muslim yang masih memiliki sesuatu yang akan diwasiatkan untuk tidur dua malam kecuali wasiatnya sudah tertulis di dekatnya.” (HR. Al-Bukhari)

Orang sakit, apabila hendak berwasiat dengan wasiat yang berkaitan dengan hartanya, maka ia tidak boleh berwasiat lebih banyak dari sepertiga hartanya. Dan hartanya tidak boleh diwasiatkan kepada ahli waris. Tidak diperbolehkan pula merugikan orang lain dengan wasiatnya, dengan tujuan mengurangi bagian yang menjadi hak salah satu ahli waris, atau melebihkan bagian yang menjadi hak salah satu ahli waris dari pada ahli waris lainnya.

Haramnya berwasiat dengan wasiat yang mandatangkan mudharat (kerugian) bagi orang lain, adalah berdasarkan hadits Rasulullah Saw yang berbunyi:

لا ضرر ولا ضرار, من ضارّ ضارّه الله

Janganlah mendatangkan mudharat bagi orang lain dan jangan saling mendatangkan mudharat. Barang siapa yang berbuat kemudharatan (merugikan orang lain) niscaya Allah datangkan kemudharatan padanya.” (HR. Al-Daruquthni dan al-Hakim)

7. Berprasangka Baik kepada Allah

Apabila ditimba ujian berupa penyakit, dan sakitnya tersebut semakin parah dari waktu ke waktu, seorang muslim diwajibkan agar tetap berprasangka baik kepada Allah SWT. Hal ini merupakan tuntunan dari Rasulullah ﷺ, berdasarkan hadits riwayat Jabir radhiyallâhu ‘anhu.

سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ وَفَاتِهِ بِثَلَاثٍ يَقُولُ لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللَّهِ الظَّنَّ

“Aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda sebelum wafatnya: ”Janganlah salah seorang dari kamu mati, kecuali dalam keadaan berprasangka baik kepada Allah.” (HR. Muslim)

Penutup

Demikian 7 hal yang harus dilakukan oleh orang sakit menurut Islam.

Semoga Allah SWT memberikan pemahaman agama kepada kita dan kemampuan untuk menjalankan perintah-perintah-Nya, Aamiin Yaa Rabb al-‘aalamiin.

Write A Comment