Di tengah masyarakat muslim mungkin masih ada sebagian kalangan yang belum memahami seperti apa bentuk kuburan menurut syariat Islam. Alhamdulillah, Al Azhar Memorial Garden sudah menyusun sebuah artikel khusus yang membahas hal tersebut. Berikut pembahasannya.

Bentuk Kuburan Menurut Syariat Islam

Kuburan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki makna tanah tempat menguburkan mayat, sinonimnya makam.

Dalam artikel ini, kami akan membahas tentang seperti apa seharusnya bentuk kuburan menurut syariat Islam.

Seperti apa seharusnya bentuk kuburan menurut syariat Islam?

Jawabnya, bentuknya harus sesuai dengan petunjuk yang disampaikan oleh Baginda Nabi Muhammad ﷺ.

Nabi Muhammad Rasulullah

Hadis-hadis Nabi, baik yang diucapkan oleh Nabi sendiri maupun yang berbentuk kesaksian para Sahabat radhiyallâhu ‘anhum, yang berkaitan dengan bentuk kuburan, jumlahnya sangat banyak, beberapa di antaranya ialah sebagai berikut.

1. Dari Jabir bin Abdillah radhiyallâhu ‘anhumâ, ia berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُلْحِدَ وَنُصِبَ عَلَيْهِ اللَّبِنُ نَصَبًا، وَرُفِعَ قَبْرُهُ مِنَ الْأَرْضِ نَحْوًا مِنْ شِبْرٍ

Bahwa Nabi ﷺ dimakamkan dalam liang lahat, diletakkan batu nisan di atasnya, dan kuburannya ditinggikan dari permukaan tanah setinggi satu jengkal.

2. Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallâhu ‘anhumâ, ia berkata:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ

Rasulullah ﷺ telah melarang menyemen kuburan, duduk di atasnya, dan membangun sesuatu di atasnya.” (HR. Muslim)

3. Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

لَعَنَ اللهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

Allah melaknat kaum Yahudi dan Nasrani karena mereka menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai masjid (tempat ibadah).” (HR. Muttafaqun ‘alaihi)

4. Dari Jundub bin Abdillah al-Bajali radhiyallâhu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah ﷺ pada saat lima hari sebelum beliau wafat, beliau bersabda:

إِنَّ اللهَ قَدِ اتَّخَذَنِي خَلِيْلاً كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيْمَ خَلِيْلاً وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِي خَلِيْلاً لاَتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلاً، أَلاَ وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيْهِمْ مَسَاجِدَ، أَلاَ فَلاَ تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ، فَإِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ

Sesungguhnya Allah telah menjadikan aku sebagai khalil (kekasih)-Nya sebagaimana Ia menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya. Seandainya aku menjadikan seseorang dari umatku sebagai kekasihku, maka aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai kekasihku. Ketahuilah bahwa orang-orang sebelum kalian telah menjadikan kuburan para Nabi dan orang saleh diantara mereka sebagai tempat ibadah. Ketahuilah, janganlah kalian menjadikan kuburan-kuburan sebagai masjid (tempat ibadah), karena sesungguhnya aku melarang kalian untuk melakukan hal itu.

Mengetahui hadis saja tidak cukup, kita juga perlu merujuk pada penjelasan para ulama agar kita tidak salah dalam memaknainya.

Penjelasan Ulama terkait Bentuk Kuburan Menurut Syariat Islam

Dalam kitab al-Umm, Imam al-Syafi’i (150 – 204 H) berkata:

Kitab al-Umm
Kitab al-Umm karya Imam Syafii

وَأُحِبُّ أَنْ لَا يُبْنَى وَلَا يُجَصَّصَ فإن ذلك يُشْبِهُ الزِّينَةَ وَالْخُيَلَاءَ وَلَيْسَ الْمَوْتُ مَوْضِعَ وَاحِدٍ مِنْهُمَا ولم أَرَ قُبُورَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ مُجَصَّصَةً

Saya menyukai agar kuburan tidak diberi bangunan di atasnya dan tidak pula disemen. Sebab, hal semacam ini sama dengan menghias kuburan dan berbangga dengan kuburan. Sementara kematian sama sekali tidak layak untuk itu. Dan saya juga melihat kuburan para sahabat Muhajirin dan Anshar, kuburan mereka tidak disemen.” (al-Umm, juz I, halaman 277)

Imam al-Nawawi (631 – 676 H), ulama besar dari mazhab Syafi’i, pernah berkata:

أَنَّ السُّنَّةَ أَنَّ الْقَبْرَ لَا يُرْفَعُ عَلَى الْأَرْضِ رَفْعًا كَثِيرًا وَلَا يُسَنَّمُ بَلْ يُرْفَعُ نَحْوَ شِبْرٍ وَيُسَطَّحُ وَهَذَا مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ

Yang sesuai ajaran Rasulullah ﷺ, bahwa kuburan itu tidak ditinggikan dari atas tanah, yang dibolehkan hanyalah meninggikan satu jengkal dan hampir terlihat rata dengan tanah. Inilah pendapat dalam mazhab Syafi’i dan yang sepaham dengannya.” (Syarh Shahîh Muslim, juz VII, halaman 35).

Imam al-Nawawi di tempat lain juga menegaskan,

وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ كَرَاهَةُ تَجْصِيصِ القبر والبناء عيه وَتَحْرِيمُ الْقُعُودُ وَالْمُرَادُ بِالْقُعُودِ الْجُلُوسُ عَلَيْه

Dilarang memberikan semen pada kuburan, dilarang mendirikan bangunan di atasnya, dan haram pula duduk di atasnya.” (Syarh Shahîh Muslim, juz VII, halaman 37).

Imam Abi Syuja’ (433 – 593 H) dalam Matan al-Ghâyah wa at-Taqrîb berkata:

ويسطح القبر ولا يبني عليه ولا يجصص

Kuburan itu mesti diratakan, kuburan tidak boleh dibangun bangunan di atasnya, dan tidak boleh kuburan diberi semen.” (Mukhtashar Abî Syujâ’, halaman 83)

Adapun mengapa kuburan boleh dinaikan ketinggiannya dari atas permukaan tanah, alasannya bisa kita temukan dalam banyak kitab, salah satunya kitab Kifâyah al-Akhyâr fi Halli Ghâyah al-Ikhtishâr karya Imam Taqiyuddin Abi Bakr al-Hishni (752 – 829 H).

Kitab Kifayatul Akhyar
Kifayatul Akhyar karya Imam Taqiyuddin Abi Bakr al-Hishni

Dalam kitab Kifâyah al-Akhyâr halaman 214, Imam Taqiyuddin menulis,

“Kuburan boleh dinaikan satu jengkal saja supaya ia dikenali dan mudah diziarahi, juga agar lebih dihormati oleh para peziarah.”

Kesimpulan

Berdasarkan hadis nabi dan penjelasan para ulama di atas, kita bisa simpulkan bahwa bentuk kuburan menurut syariat Islam memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Memiliki liang lahat sebagai tempat diletakkannya jenazah.
  • Terdapat batu nisan di atas kuburan.
  • Kuburan ditinggikan sewajarnya untuk memberikan tanda bahwa itu adalah kuburan, bukan jalan umum.
  • Di atas kuburan tidak terdapat bangunan.
  • Kuburan tidak dijadikan sebagai tempat ibadah.
  • Kuburan tidak dijadikan sebagai tempat duduk.

Demikian kesimpulan yang bisa kita ambil dari pembahasan kali ini. Semoga bermanfaat. Wallâhu a’lam bi al-shawâb.

***

Catatan Penting

Melalui artikel ini kami berusaha menjawab pertanyaan masyarakat muslim yang bertanya apakah kuburan atau makam yang ada di Al-Azhar Memorial Garden sesuai syariat Islam atau tidak.

bentuk kuburan menurut syariat Islam
Bentuk Makam yang ada di lokasi pemakaman Al Azhar Memorial Garden

Jawaban kami, berdasarkan dalil-dalil yang ada, maka kami menjawab bahwa bentuk makam yang ada di Al-Azhar Memorial Garden sudah sesuai dengan syariat Islam. Apabila di antara pembaca masih ada yang ragu dengan hal tersebut, mohon berkenan datang ke Al-Azhar Memorial Garden untuk meninjau secara langsung.

Dan apabila di antara pembaca ada yang ingin diantar langsung ke lokasi Al-Azhar Memorial Garden, silakan hubungi bapak Irfan Bukhari di nomor 0811-2149-917. Bapak Irfan Bukhari selalu sales representatif Al-Azhar Memorial Garden akan dengan senang hati mengantar Anda.[]

Comments are closed.